Belajar dari Ketabahan Keluarga Yasir

Dalam sejarah Islam, keluarga Yasir adalah contoh kaum lemah yang amat sabar menerima segala ‘siksaan’ dari kaum kafir Quraisy. Mereka adalah budak dari Bani Makhzum.

Kesabaran Yasir dan istrinya Sumayyah (ada juga yang menyebutnya Samiyah), serta kedua putranya Abdullah dan Amar, adalah buah dari keimanan yang amat kuat. Tak mungkin mereka sanggup bertahan kalau bukan karena keyakinan kepada janji Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Bayangkan, Bani Makhzum telah meyeret keluarga ini ke tengah sahara kota Makkah di bawah teriknya matahari yang panas. Tak sekadar itu, mereka juga ‘disiksa’ habis-habisan. Mereka ditimbun dengan pasir yang panas, dicambuk dengan bengis, namun yang keluar dari mulut mereka hanya “Ahad … Ahad”, sebagaimana diucapkan Bilal bin Rabbah saat ‘disiksa’ kaum kafir.

‘Penyiksaan’ ini tidak berlangsung sehari, namun berhari-hari. Abu Bakar pernah melewati tempat ‘penyiksaan’ ini dan bermaksud membebaskan keluarga Yasir dengan cara membelinya, namun kaum kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal menolaknya.

Rasulullah ﷺ  juga pernah melintas di depan keluarga Yasir yang sedang ‘disiksa’. Beliau ketika itu tak kuasa membantu mereka. Keadaan umat Islam masih sangat lemah. Kaum Muslim masih belum berani menunjukkan identitas keislamannya secara terang-terangan.

Rasulullah ﷺ hanya bisa berkata kepada keluarga Yasir, sebagaimana dikisahkan oleh Ahmad dalam al-Musnad dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, “Bersabarlah wahai  keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga.”

Perkataan Rasulullah ﷺ ini kian menambah kuat iman keluarga Yasir. Sumayyah mengulang-ulang perkataannya di hadapan Rasulullah ﷺ, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah ﷺ dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Orang pertama yang meninggal akibat ‘penyiksaan’ itu, menurut Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, adalah Sumayyah. Ia sekaligus adalah syuhada pertama yang darahnya mengalir karena membela Islam. Sebuah tombak telah ditusukkan oleh Abu Jahal ke bagian kemaluannya.

Yasir juga meninggal dunia dalam ‘penyiksaan’ itu. Begitu pula dengan putranya Abdullah. Orang-orang kafir telah memanahnya sehingga ia meninggal seketika. Hanya Amar yang mampu bertahan hidup meskipun tak luput dari ‘penyiksaan’ serupa.

Sekali lagi, kesabaran seperti ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang yakin dengan janji Allah Ta’ala. Mudah-mudahan mereka yang kini sedang terzalimi luar biasa dan tak kuasa berbuat apa-apa, Allah Ta’ala karuniakan kesabaran dan surga sebagaimana keluarga Yasir.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *